Senin, 09 Mei 2016

Menganal Lebih Dekat Tentang Desa Sukarara

Pulau Lombok? siapa sih yang tak mengenal pulau yang satu ini, pulau dengan sejuta keindahan alam beserta keragaman budaya yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang mereka. Terutama bagi para penikmat pantai yang pasti akan mengetahui keindahan apa saja yang terpampang di Pulau Lombok. Karena pulau ini memang terkenal dengan pemandangan pantai dan lautnya yang begitu menakjubkan dan mempesona, pastinya akan membuat setiap mata yang melihatnya tak akan rela memalingkan pandangannya walaupun sedetik. Namun, jangan salah jika kalian menganggap Lombok hanya memiliki keindahan hanya pada pantai dan lautnya saja. Pulau yang masih menjadi bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat ini ternyata mempunyai warisan budaya yang indah yaitu kerajinan tenun yang memiliki motif unik dan tentunya berbeda dengan kerajinan tenun dari daerah lain. Kerajinan ini merupakan karya dari masyarakat Desa Sukarara sebagai bagian dari warisan budaya nenek moyang mereka yang selalu dijaga dan dilestarikan.

Desa yang terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ini memang menyimpan segudang keunikan budaya yang patut dijaga kealamiannya.
Lokasi tepatnya sekitar 25 Km dari pusat Kota Mataram dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit dan berjarak 5 Km dari Kota Praya sekitar 5 menit perjalanan darat. Buat kalian yang ingin melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum sangat cocok karena memang rute perjalanannya memang mudah dijangkau dan tak membutuhkan waktu lama untuk menikmati keunikan warisan budaya Desa Sukarara ini. Dan jangan khawatir bagi kalian yang membayangkan di perjalanan nanti bakal bosan, karena sepanjang perjalanan kalian bakal disuguhi hamparan sawah dan deretan pepohonan nan hijau yang dapat menyejukkan suasanya anda selama perjalanan.

Belajar Menenun Khas Desa Sukarara

Tadi sudah dijelasin kan apa saja yang bakal kalian temui jika berkunjung ke Lombok khususnya di Desa Sukarara, yang salah satunya ialah kerajinan tenun khas Lombok. Proses menenun ini dilakukan oleh sebagian besar perempuan yang memang sudah dari kecil dilatih dan diajarkan bagaimana cara menenun dengan baik dan benar. Sejak kecil mereka menenun mulai dari motif dasar paling sederhana yang mudah dipelajari hingga motif rumit yang tentunya membutuhkan teknik tinggi untuk dapat melakukannya dengan baik dan benar. Dan perlu diingat nih bahwa kalian juga tidak hanya bisa melihat atu menonton saja proses menenun, tetapi kalian juga dapat mencoba belajar bagaimana caranya menenun dengan benar kepada para pengrajin di sana. Dan kalian akan merasakan sensasi luar biasa dari proses menenun dengan menggunakan alat tenun tradisional yang memang dibuat sendiri oleh mereka. Karena mereka memang harus memiliki peralatan tenun yang nyaman untuk digunakan, sehingga mereka memilih untuk membuatnya sendiri sesuai standar kenyamanan mereka. Hal itu guna menghasilkan kualitas kain tenun yang baik dan memiliki harga jual yang tinggi.

Pemandangan pertama yang akan kalian jumpai ketika berkunjung ke Desa Sukarara adalah pemandangan wanita yang duduk manis di depan teras rumah mereka dengan sepaket peralatan tenun beserta kain yang sedang mereka tenun. Hampir sepanjang kaki kalian melangkah dapat dipastikan kalian akan menjumpai pemandangan seperti itu. Kebiasaan menenun di depan teras rumah ini memang sudah menjadi sebuah tradisi di tempat mereka sudah berjalan sejak dulu secara turun temurun. Dan tradisi itu disinyalir tidak akan hilang selama mereka konsisten dalam melestarikannya. Kain tenun atau songket khas ini wajib kalian apresiasi dengan membelinya baik lewat agen toko atau datang dan membeli langsung ke rumah mereka. Motif-motif kain tenun atau songket yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari motif ayam, motif kembanag delapan, motif kembang empat, motif pakerot, motif trudak, dan motif bergambar tokek yang dipercaya bakal membawa keberuntungan. Untuk urusan harga juga bervariasi yang disesuaikan dengan bahan yang digunakan, tingkat kerumitan motif serta ukuran kainnya. Harga yag ditawarkan mulai dari Rp 50.000,00 untuk ukuran sebesar taplak kecil, dan Rp 100.000,00 untuk selandang, syal dan ikat kepala. Berbeda lagi ketika kain tersebut dikombinasikan dengan benang emas yang bakal menambah kesan mewah dan megah, yang ditawarkan dengan harga 1,5 juta hingga 2,5 juta. Memang cukup mahal tetapi sebanding dengan ukuran dan kualitas yang didapat.

Hasil Tentun Desa Sade

Selain Desa Sukarara yang sudah dijelaskan panjang lebar di atas, terdapat juga tempat yang tak kalah menariknya yaitu Desa Sade. Desa Sade merupakan salah satu desa tradisional yang berjarak sekitar 5 Km dari Bandara Internasional Lombok. Desa tersebut dihuni oleh Suku Sasak yang memiliki keunikan juga dalam hal karya kerajinan kain tenun. Dengan keunikan tersebut menjadikan Desa Sade ini sebagai salah satu destinasi bagi wisatawan yang ingin mencari kain khas Lombok. Kain tenun hasil kreasi tangan kreatif masyarakat Desa Sade ini memang terkenal akan kelembutan motifnya yang membuat setiap mata yang melihatnya ingin segera memilikinya. Selain diperjualbelikan, kain tenun ini memang menjadi pakainan tradisional Suku Sasak dan lebih dikenal dengan nama Baju Lambung (baju wanita). Pakaian adat ini memiliki motif hitam polos dipadu dengan motif beragam di bagian bawah, variasi itu bisa berupa ikat pinggang, selandang, atau aksesoris lainnya yang dapat menambah keindahan pada pakaian tradisionalnya. Berbeda halnya dengan kaum pria yang menggunakan songket tersebut sebagai bawahan dan dipasangkan dengan baju adat Tegodek Nongkeq sebagai atasannya. Yang pasti perpaduan tersebut memang sudah didesain dari dulu oleh nenenk moyang mereka yang diwariskan secara turun temurun.


Berkaitan dengan kain songket, terdapat hal unik yang perlu kalian ketaui nih, bahwa setiap perempuan yang memiliki keinginan untuk menikah maka mereka wajib menyerahkan songket hasill buatan tangannya sendiri kepada calon pasangannya. Jika mereka belum bisa menenun dan menghasilkan songket sendiri, maka mereka dianggap belum boleh menikah. Apabila perempuan tersebut bersikeras untuk menikah juga, maka ia akan dikenakan denda berupa uang atau padi hasil panen. Tradisi tersebut berlaku di seluruh wilayah yang dihuni Suku Sasak termasuk Desa Sade dan Desa Sukarara. Sebuah tradisi unik yang wajib dilestarikan dan jangan sampai tergerus oleh jaman yang semakin berkembang, Karena tradisi semacam itu merupakan aset berharga yang dapat menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk datang berkunjung dan mengenal semua tradisi yang ada. Khususnya bagi kita rakyat Indonesia wajib untuk sadar memiliki tradisi dan budaya yang ada dengan menjaga dan melestarikannya, salah satunya dengan mengunjungi langsung ke beberapa tempat di Indonesia yang pastinya memiliki kebudayaan yang beragam, terutama kedua desa di Lombok ini. Jangan khawatir bagi kalian yang minim informasi mengenai akses kesana, karena banyak jasa tour yang bisa kalian gunakan. Jasa tour ini banyak tersedia dan biasanya menawarkan paket dengan berbagai fasilitasnya. Dengan jasa tour ini tentu akan membimbing dan membantu kalian dalam perjalanan wisata kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar