Pulau Lombok? siapa sih yang tak mengenal pulau yang satu
ini, pulau dengan sejuta keindahan alam beserta keragaman budaya yang merupakan
warisan turun temurun dari nenek moyang mereka. Terutama bagi para penikmat
pantai yang pasti akan mengetahui keindahan apa saja yang terpampang di Pulau
Lombok. Karena pulau ini memang terkenal dengan pemandangan pantai dan lautnya
yang begitu menakjubkan dan mempesona, pastinya akan membuat setiap mata yang
melihatnya tak akan rela memalingkan pandangannya walaupun sedetik. Namun,
jangan salah jika kalian menganggap Lombok hanya memiliki keindahan hanya pada
pantai dan lautnya saja. Pulau yang masih menjadi bagian dari Provinsi Nusa
Tenggara Barat ini ternyata mempunyai warisan budaya yang indah yaitu kerajinan
tenun yang memiliki motif unik dan tentunya berbeda dengan kerajinan tenun dari
daerah lain. Kerajinan ini merupakan karya dari masyarakat Desa Sukarara sebagai
bagian dari warisan budaya nenek moyang mereka yang selalu dijaga dan
dilestarikan.
Desa yang terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok
Tengah, Nusa Tenggara Barat ini memang menyimpan segudang keunikan budaya yang
patut dijaga kealamiannya.
Lokasi tepatnya sekitar 25 Km dari pusat Kota Mataram dengan waktu tempuh
kurang lebih 30 menit dan berjarak 5 Km dari Kota Praya sekitar 5 menit
perjalanan darat. Buat kalian yang ingin melakukan perjalanan dengan
menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum sangat cocok karena memang
rute perjalanannya memang mudah dijangkau dan tak membutuhkan waktu lama untuk
menikmati keunikan warisan budaya Desa Sukarara ini. Dan jangan khawatir bagi kalian yang
membayangkan di perjalanan nanti bakal bosan, karena sepanjang perjalanan
kalian bakal disuguhi hamparan sawah dan deretan pepohonan nan hijau yang dapat
menyejukkan suasanya anda selama perjalanan.
Belajar Menenun Khas Desa Sukarara
Tadi sudah dijelasin kan apa saja yang bakal kalian temui
jika berkunjung ke Lombok khususnya di Desa Sukarara, yang salah satunya ialah kerajinan tenun khas
Lombok. Proses menenun ini dilakukan oleh sebagian besar perempuan yang memang
sudah dari kecil dilatih dan diajarkan bagaimana cara menenun dengan baik dan
benar. Sejak kecil mereka menenun mulai dari motif dasar paling sederhana yang
mudah dipelajari hingga motif rumit yang tentunya membutuhkan teknik tinggi
untuk dapat melakukannya dengan baik dan benar. Dan perlu diingat nih bahwa
kalian juga tidak hanya bisa melihat atu menonton saja proses menenun, tetapi
kalian juga dapat mencoba belajar bagaimana caranya menenun dengan benar kepada
para pengrajin di sana. Dan kalian akan merasakan sensasi luar biasa dari
proses menenun dengan menggunakan alat tenun tradisional yang memang dibuat
sendiri oleh mereka. Karena mereka memang harus memiliki peralatan tenun yang
nyaman untuk digunakan, sehingga mereka memilih untuk membuatnya sendiri sesuai
standar kenyamanan mereka. Hal itu guna menghasilkan kualitas kain tenun yang
baik dan memiliki harga jual yang tinggi.
Pemandangan pertama yang akan kalian jumpai ketika
berkunjung ke Desa Sukarara adalah
pemandangan wanita yang duduk manis di depan teras rumah mereka dengan sepaket
peralatan tenun beserta kain yang sedang mereka tenun. Hampir sepanjang kaki
kalian melangkah dapat dipastikan kalian akan menjumpai pemandangan seperti
itu. Kebiasaan menenun di depan teras rumah ini memang sudah menjadi sebuah
tradisi di tempat mereka sudah berjalan sejak dulu secara turun temurun. Dan
tradisi itu disinyalir tidak akan hilang selama mereka konsisten dalam
melestarikannya. Kain tenun atau songket khas ini wajib kalian apresiasi dengan
membelinya baik lewat agen toko atau datang dan membeli langsung ke rumah
mereka. Motif-motif kain tenun atau songket yang ditawarkan sangat beragam,
mulai dari motif ayam, motif kembanag delapan, motif kembang empat, motif pakerot, motif trudak, dan motif bergambar tokek yang dipercaya bakal membawa
keberuntungan. Untuk urusan harga juga bervariasi yang disesuaikan dengan bahan
yang digunakan, tingkat kerumitan motif serta ukuran kainnya. Harga yag
ditawarkan mulai dari Rp 50.000,00 untuk ukuran sebesar taplak kecil, dan Rp
100.000,00 untuk selandang, syal dan ikat kepala. Berbeda lagi ketika kain
tersebut dikombinasikan dengan benang emas yang bakal menambah kesan mewah dan
megah, yang ditawarkan dengan harga 1,5 juta hingga 2,5 juta. Memang cukup
mahal tetapi sebanding dengan ukuran dan kualitas yang didapat.
Hasil Tentun Desa Sade
Selain Desa
Sukarara yang sudah dijelaskan panjang lebar di atas, terdapat juga
tempat yang tak kalah menariknya yaitu Desa Sade. Desa Sade merupakan salah
satu desa tradisional yang berjarak sekitar 5 Km dari Bandara Internasional
Lombok. Desa tersebut dihuni oleh Suku Sasak yang memiliki keunikan juga dalam
hal karya kerajinan kain tenun. Dengan keunikan tersebut menjadikan Desa Sade
ini sebagai salah satu destinasi bagi wisatawan yang ingin mencari kain khas
Lombok. Kain tenun hasil kreasi tangan kreatif masyarakat Desa Sade ini memang
terkenal akan kelembutan motifnya yang membuat setiap mata yang melihatnya
ingin segera memilikinya. Selain diperjualbelikan, kain tenun ini memang
menjadi pakainan tradisional Suku Sasak dan lebih dikenal dengan nama Baju
Lambung (baju wanita). Pakaian adat ini memiliki motif hitam polos dipadu
dengan motif beragam di bagian bawah, variasi itu bisa berupa ikat pinggang,
selandang, atau aksesoris lainnya yang dapat menambah keindahan pada pakaian
tradisionalnya. Berbeda halnya dengan kaum pria yang menggunakan songket
tersebut sebagai bawahan dan dipasangkan dengan baju adat Tegodek Nongkeq
sebagai atasannya. Yang pasti perpaduan tersebut memang sudah didesain dari
dulu oleh nenenk moyang mereka yang diwariskan secara turun temurun.
Berkaitan dengan kain songket, terdapat hal unik yang perlu
kalian ketaui nih, bahwa setiap perempuan yang memiliki keinginan untuk menikah
maka mereka wajib menyerahkan songket hasill buatan tangannya sendiri kepada
calon pasangannya. Jika mereka belum bisa menenun dan menghasilkan songket
sendiri, maka mereka dianggap belum boleh menikah. Apabila perempuan tersebut
bersikeras untuk menikah juga, maka ia akan dikenakan denda berupa uang atau
padi hasil panen. Tradisi tersebut berlaku di seluruh wilayah yang dihuni Suku
Sasak termasuk Desa Sade dan Desa
Sukarara. Sebuah tradisi unik yang wajib dilestarikan dan jangan sampai
tergerus oleh jaman yang semakin berkembang, Karena tradisi semacam itu
merupakan aset berharga yang dapat menarik wisatawan baik lokal maupun
mancanegara untuk datang berkunjung dan mengenal semua tradisi yang ada. Khususnya
bagi kita rakyat Indonesia wajib untuk sadar memiliki tradisi dan budaya yang
ada dengan menjaga dan melestarikannya, salah satunya dengan mengunjungi
langsung ke beberapa tempat di Indonesia yang pastinya memiliki kebudayaan yang
beragam, terutama kedua desa di Lombok ini. Jangan khawatir bagi kalian yang
minim informasi mengenai akses kesana, karena banyak jasa tour yang bisa kalian
gunakan. Jasa tour ini banyak tersedia dan biasanya menawarkan paket dengan
berbagai fasilitasnya. Dengan jasa tour ini tentu akan membimbing dan membantu
kalian dalam perjalanan wisata kalian.